Gibran Targetkan Indonesia Pimpin Pasar Halal Dunia di Tengah Ekspansi Malaysia ke Asia Tengah

Pasar halal dunia saat ini bukan lagi monopoli negara-negara dengan populasi muslim saja. Gaya hidup dan branding halal kini sudah meluas, menjelma menjadi tren global yang punya daya tarik ekonomi luar biasa. Besarnya peluang ini sempat disinggung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui kanal YouTube pribadinya pada Minggu (8/6/2025). Mengutip data global, Gibran menyebutkan bahwa pengeluaran konsumen muslim di seluruh dunia sudah menyentuh angka 2,3 triliun USD pada tahun 2022. Angka fantastis tersebut bahkan diproyeksikan bakal terus meroket hingga menembus 3,1 triliun USD pada 2027 mendatang.

Sebagian besar dari perputaran uang tersebut berpusat di sektor makanan dan minuman halal yang mendominasi hingga 43 persen dari total potensi pasar. Menyusul di belakangnya adalah industri fesyen muslim dengan porsi 23 persen. Melihat angka-angka ini, tidak heran jika banyak negara kini saling berlomba untuk membidik dan menguasai ceruk pasar syariah global.

Posisi dan Ambisi Indonesia Bagi Indonesia, mewujudkan mimpi menjadi negara maju sekaligus salah satu kekuatan ekonomi dunia bukanlah sekadar angan kosong. Mengingat Indonesia dihuni oleh 245 juta umat muslim—yang menjadikannya salah satu populasi muslim terbesar di dunia—kekuatan pasar sebenarnya sudah ada di genggaman tangan. Gibran terus mendorong agar kemandirian ekonomi syariah dibangun secara menyeluruh, mulai dari sektor keuangan, industri makanan dan minuman, fesyen, kosmetik, pariwisata ramah muslim, hingga ranah hiburan seperti musik dan film islami.

Di atas kertas, pencapaian Indonesia sejatinya cukup mentereng. Berdasarkan data tahun 2024, Indonesia sukses bertengger di jajaran tiga besar Global Islamic Economy Index. Tren ekspor produk halal tanah air juga konsisten tumbuh mencapai 7 persen dalam enam tahun terakhir. Hebatnya lagi, 15 dari 30 perusahaan produsen halal terkemuka di dunia ternyata berasal dari Indonesia.

Kendati demikian, putra sulung Jokowi itu mengakui secara terbuka bahwa Indonesia belum sepenuhnya memegang kendali sebagai pemain utama dalam rantai pasok halal global. Fakta di lapangan menunjukkan posisi Indonesia masih tertahan di urutan ke-8 sebagai negara eksportir produk halal dunia. Oleh sebab itu, Gibran mewanti-wanti agar Indonesia bisa bergerak lebih gesit dan memaksimalkan seluruh potensi lokal yang ada agar tidak tertinggal dari negara lain.

Manuver Malaysia dan Uzbekistan Tantangan bagi Indonesia untuk mendominasi pasar ini nyatanya semakin ketat, terutama karena negara-negara lain juga terus berekspansi. Malaysia, misalnya, belakangan ini gencar menjajaki pasar Asia Tengah demi memperluas jangkauan produk halal mereka. Dalam sebuah pertemuan strategis baru-baru ini, Duta Besar Uzbekistan, Karomiddin Gadoev, berdiskusi langsung dengan Wakil CEO MATRADE (Perbadanan Pembangunan Perdagangan Luar Malaysia), Abu Bakar Yusof. Keduanya sepakat untuk segera menggodok Perjanjian Antarpemerintah tentang Perdagangan Preferensial guna menggenjot volume perdagangan bilateral.

Malaysia rupanya membaca situasi geopolitik global yang sedang kompleks dan memutuskan untuk menjadikan Asia Tengah sebagai target prioritas diversifikasi pasar. Dalam skema ini, Uzbekistan diproyeksikan bakal menjadi poros atau hub regional yang sangat strategis. Langkah konkret dari kerja sama ini akan terlihat pada pameran halal internasional bergengsi, MIHAS, yang dijadwalkan berlangsung di Kuala Lumpur pada September 2026. Uzbekistan dipastikan akan membuka paviliun nasional berskala besar di ajang tersebut untuk mempromosikan produk pangan lokal mereka ke pasar internasional.

Menyadari status Uzbekistan sebagai pemilik pasar konsumen halal paling masif di kawasan Asia Tengah, Malaysia bahkan bersedia melangkah lebih jauh. Mereka kini tengah menjajaki kemungkinan untuk memboyong dan menggelar pameran MIHAS di ibu kota Tashkent pada tahun 2027. Sebagai langkah awal pemanasan, MATRADE dalam waktu dekat akan memimpin langsung sejumlah delegasi bisnis Malaysia untuk melakukan misi perdagangan dan investasi lintas sektor ke Uzbekistan pada tahun ini. Rangkaian manuver strategis ini diharapkan mampu memperkuat cengkeraman investasi Malaysia sekaligus mendongkrak volume perdagangan kedua negara di pasar halal internasional.