Menambal Celah Industri Perjalanan: Dari Lesunya Turis di New Hampshire hingga Manuver AI Travelport

Industri pariwisata terkadang terasa seperti berjudi dengan cuaca dan tren. Ambil contoh apa yang terjadi di New Hampshire belakangan ini. Banyak komunitas di sana benar-benar menggantungkan napas pada kunjungan turis dari wilayah perbatasan, khususnya Kanada. Namun laporan terbaru lumayan bikin gelisah karena angkanya anjlok drastis. Rata-rata ada penurunan sekitar 4,2 juta perjalanan menginap dan 5,7 juta perjalanan pulang-hari dari warga Kanada ke AS. Totalnya nyaris 10 juta kunjungan yang menguap begitu saja.

Dampaknya langsung terasa di urat nadi ekonomi lokal. Charlie St. Clair, direktur eksekutif Laconia Motorcycle Week Association—salah satu acara musim panas paling besar di kawasan itu—terang-terangan bilang kalau absennya turis Kanada ini sangat memukul mereka. Dulu, mereka datang dan membelanjakan banyak uang, tapi tren itu mati di musim panas lalu, kosong di musim dingin, dan dia pesimis tahun ini bakal ada perubahan signifikan. Di sisi lain, Presiden Kamar Dagang Hampton Area, John Nyhan, juga waswas melihat hilangnya pangsa 10-15% turis Kanada mereka. Meski mencoba realistis dan berharap musim panas ini tetap “oke”, para pemilik hotel di sana sekarang cuma bisa main aman—tidak berani overbooking, tapi untungnya juga tidak sampai kosong melompong.

Realitas di lapangan yang serba tidak pasti ini sebenarnya memotret masalah struktural yang lebih dalam di ranah global. Mengandalkan optimisme agar musim liburan kembali ramai jelas tidak cukup kalau infrastruktur teknologi di balik layar masih ngos-ngosan mengimbangi perubahan perilaku konsumen. Ketika volume perjalanan menurun atau bergeser, industri tidak boleh lagi kehilangan peluang sekecil apa pun karena sistem yang kaku.

Faktanya, sistem pemesanan lawas kini mulai keteteran. Biaya agensi membengkak karena staf manusia harus merangkai rencana perjalanan yang ruwet secara manual. Belum lagi ada jurang pemisah yang makin lebar antara cara pelancong modern mencari inspirasi liburan pakai tool AI dan kemampuan platform lama untuk menerjemahkan niat tersebut menjadi tiket beneran.

Injeksi AI Skala Besar di Jantung Infrastruktur

Di sinilah perombakan besar-besaran mulai terjadi untuk menyelamatkan ekosistem perjalanan. Travelport baru saja menggandeng Cognizant dan Anthropic untuk sebuah transformasi AI strategis. Mereka tidak main-main, langsung mengerahkan model AI Claude dari Anthropic untuk memodernisasi total cara Travelport membangun, menguji, dan merawat perangkat lunak di seluruh platform ritel dan distribusi perjalanannya.

Buat agen perjalanan atau perusahaan manajemen perjalanan (TMC), perombakan ini ibarat napas buatan. Platform Travelport nantinya akan mengambil alih beban kognitif yang selama ini bikin pusing agen. Mulai dari menyodorkan opsi perjalanan lebih cepat, mengotomatisasi proses tukar tiket dan rebooking, sampai memasukkan intelijen gangguan langsung ke alur kerja. Bayangkan seorang agen yang mengurus klien korporat bisa langsung melihat rute penerbangan mana yang risiko delay atau batalnya paling kecil secara statistik. Efisiensinya luar biasa. Menghemat satu jam saja per agen tiap harinya bisa memangkas biaya operasional hingga jutaan dolar setahun untuk sebuah TMC skala besar.

Sementara itu, buat agen perjalanan online (OTA), tantangannya ada di level fundamental. Orang-orang sekarang terbiasa curhat panjang lebar ke AI untuk merencanakan itinerary, tapi sistem transaksional yang ada terlalu kaku untuk menangkap kekayaan konteks tersebut. Arsitektur Travelport yang baru ini bertumpu pada protokol MCP (Model Context Protocol). Teknologi ini memungkinkan obrolan santai pengguna diterjemahkan langsung menjadi konfirmasi pemesanan dengan ketersediaan real-time. Sebuah celah kapabilitas yang akhirnya bisa disulap jadi peluang komersial nyata.

Bukan Sekadar Proyek Uji Coba

Ravi Kumar S, CEO Cognizant, memberikan pandangan analitis soal ini. Menurutnya, industri perjalanan berjalan di atas salah satu infrastruktur teknologi yang paling rumit di dunia, dan siapa pun yang berani berinvestasi merombak fondasi itu dari sekarang bakal jadi pemimpin pasar. Kerja sama ini didesain lewat model strategi AI Builder Cognizant untuk membuat Travelport bergerak lebih gesit dan menghasilkan kualitas sistem yang jauh lebih tinggi.

John Mangelaars dari Travelport juga blak-blakan menyebut bahwa AI bukan lagi wacana masa depan, melainkan realitas hari ini. Menggandeng Anthropic dan Cognizant memberi mereka semacam “kekuatan super”. Anthropic membawa model AI paling mumpuni, Cognizant menyumbang talenta engineering untuk eksekusi massal, dan Travelport memegang kunci jaringan infrastruktur globalnya.

Alasan mereka memilih Anthropic juga sangat teknis tapi esensial. Anthropic adalah pencipta protokol MCP, yang membuat agen AI bisa berinteraksi langsung dengan sistem dan data eksternal. Di industri pariwisata yang menuntut tingkat kepercayaan tinggi dan di mana kebocoran data atau salah booking bisa berujung fatal, pendekatan Anthropic terhadap keamanan dan kontrol sistem adalah harga mati.

Proyek ini dipastikan bukan sekadar pilot project iseng. Fokus awalnya langsung menyasar Travelport Trip Services—mesin inti yang mengurus booking, refund, dan layanan pelanggan—dengan lapisan antarmuka berbasis MCP di atasnya. Dibangun di atas platform cloud-native milik Travelport, rilis besarnya dikabarkan sudah di depan mata dan fitur untuk konsumen akan meluncur tahun ini.

Membedah Kode, Membangun Ulang Harapan

Dari kacamata teknis, Rich O’Connell selaku Head of Alliances dari Anthropic menyoroti bahwa kemampuan bernalar melintasi codebase raksasa yang super kompleks adalah arena di mana Claude bersinar paling terang. Dan memang itulah yang sangat dibutuhkan oleh infrastruktur perjalanan saat ini.

Cognizant mengintegrasikan Claude ke dalam platform engineering mereka, termasuk Neuro-san (pustaka open-source di balik akselerator Neuro AI milik Cognizant). AI ini akan mengawal penulisan kode, pembuatan pengujian, sampai meninjau pull-request. Jendela konteks Claude yang sangat besar mampu menganalisis jutaan baris kode Travelport dan memetakan logika bisnis yang tertanam di dalamnya—sebuah proses yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan jika dilakukan manusia. Secara keseluruhan, manuver ini diproyeksikan bakal memangkas waktu siklus pengiriman perangkat lunak Travelport secara drastis.

Apakah semua kecanggihan algoritma dan perombakan kode jutaan dolar ini bisa langsung mengembalikan sepuluh juta turis Kanada ke jalanan New Hampshire esok hari? Tentu tidak sesederhana itu. Tapi yang pasti, ketika industri pariwisata sudah dibekali infrastruktur yang sanggup menangkap, memahami, dan mengeksekusi niat bepergian seseorang dengan presisi tinggi, bisnis di akar rumput setidaknya memiliki jaring yang jauh lebih kuat untuk menangkap setiap peluang yang ada di tengah musim yang lesu.