Belum lama ini, sorotan publik tertuju pada ketegangan yang terjadi selama proses pengukuran lahan untuk Proyek Waduk Bener di Desa Wadas, Purworejo, Jawa Tengah. Di balik konflik agraria tersebut, terdapat satu objek alam yang menjadi inti pembahasan, yakni batu andesit. Batuan vulkanik yang rencananya akan ditambang untuk material konstruksi ini sebenarnya bukanlah benda asing bagi masyarakat Indonesia. Batu berwarna abu-abu kehitaman dengan butiran halus atau porfiritik ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah peradaban nusantara, mulai dari pondasi candi megah hingga perkakas rumah tangga sehari-hari.
Karakteristik dan Sebaran Andesit di Nusantara
Secara geologis, andesit diklasifikasikan sebagai batuan beku vulkanik ekstrusif dengan komposisi menengah. Merujuk pada diagram TAS (Total Alkali Silica), batuan ini merupakan jenis peralihan antara basal dan dasit dengan kandungan silika atau silikon dioksida ($SiO_2$) berkisar antara 57% hingga 63%. Susunan mineralnya didominasi oleh plagioklas, yang sering kali bercampur dengan piroksen atau hornblende. Selain itu, mineral aksesori seperti magnetit, zirkon, dan biotit juga kerap ditemukan di dalamnya. Keberadaan batuan ini sangat umum di wilayah dengan aktivitas vulkanik tinggi seperti Indonesia, yang merupakan hasil dari lingkungan subduksi tektonik.
Pusat kerajinan dan pengolahan batu andesit tersebar di beberapa wilayah strategis, seperti Magelang, serta Cirebon dan Majalengka di Jawa Barat. Di Cirebon, andesit yang dihasilkan umumnya memiliki dua varian utama, yaitu bermotif bintik dan polos. Ketersediaannya yang melimpah di alam menjadikan batu ini primadona material konstruksi, apalagi sifatnya yang ramah lingkungan dan bebas dari kandungan racun berbahaya.
Warisan Masa Lalu yang Tahan Zaman
Bukti ketangguhan andesit dapat dilihat langsung pada bangunan-bangunan megalitik dan candi-candi peninggalan masa lampau. Candi-candi dari era Kerajaan Mataram Kuno, misalnya, masih berdiri kokoh hingga hari ini meski telah melewati ratusan tahun perubahan cuaca dan iklim ekstrem. Hal ini membuktikan bahwa andesit memiliki daya tahan luar biasa terhadap suhu panas maupun dingin yang drastis. Hingga kini, material ini masih dimanfaatkan secara luas, mulai dari nisan kuburan warga Tionghoa, hiasan arca, kap lampu taman, hingga peralatan dapur tradisional seperti cobek dan lumpang jamu.
Dalam konteks desain modern, andesit menawarkan nilai estetika dan fungsionalitas. Penggunaannya pada lantai memberikan fitur tahan slip, sementara aplikasinya sebagai cladding dinding memberikan dimensi dan kedalaman visual pada sebuah ruang. Sifatnya yang mampu bertahan di segala cuaca menjadikan andesit pilihan utama untuk area luar ruangan maupun interior, memberikan nuansa alami yang bersahaja namun tetap artistik.
Melangkah Mundur Menuju Masa Depan: Sebuah Refleksi
Sementara kita mengeksploitasi kekayaan geologis di daratan seperti andesit dengan segala manfaat dan dinamika sosialnya, tantangan serupa kini muncul dari kedalaman samudra. Pemerintahan Trump di Amerika Serikat, misalnya, tengah mendorong pembukaan dasar laut untuk pertambangan, khususnya di dekat Palung Mariana dan Samoa Amerika. Langkah ini diklaim penting untuk ekonomi dan energi masa depan, namun bagi masyarakat Kepulauan Pasifik, ambisi ini memicu kekhawatiran mendalam yang berakar pada kearifan lokal.
Dalam banyak budaya Pasifik, termasuk warisan Chamorro, terdapat filosofi navigasi yang dikenal sebagai “berjalan mundur menuju masa depan”. Para pelaut Pasifik mengarungi samudra luas bukan dengan menatap kosong ke depan, melainkan dengan membaca jejak ombak di belakang kano mereka. Dengan melihat ke belakang—ke arah dari mana mereka berasal—mereka dapat menentukan kecepatan dan arah tujuan. Masa lalu dianggap berada di depan mata karena terlihat jelas dan penuh pengetahuan, sedangkan masa depan adalah sesuatu yang tak terlihat di belakang punggung. Filosofi ini mengajarkan bahwa mengabaikan pelajaran sejarah sama halnya dengan salah membaca arus laut, yang bisa menyesatkan perjalanan hingga ratusan mil.
Belajar dari Jejak Sejarah Ekstraksi
Perspektif masyarakat adat ini melahirkan skeptisisme terhadap rencana penambangan laut dalam. Sejarah telah mencatat pola yang berulang: ketika teknologi diuji coba atau sumber daya diekstraksi di tanah adat, komunitas lokallah yang menanggung dampaknya. Mulai dari penambangan uranium yang meninggalkan kontaminasi lingkungan hingga uji coba senjata nuklir di Atol Johnston dan Kepulauan Marshall, masyarakat pulau sering kali dijadikan kelinci percobaan untuk industri ekstraktif. Penambangan laut dalam sendiri bukanlah teknologi yang sepenuhnya terbukti aman. Para ilmuwan memperingatkan bahwa mengganggu ekosistem rapuh bermil-mil di bawah permukaan laut dapat menyebabkan kerusakan keanekaragaman hayati yang permanen.
Area yang dipertimbangkan untuk dieksploitasi di Pasifik luasnya mencapai dua puluh lima kali lipat dari suaka laut terbesar yang pernah ditetapkan. Ironisnya, masyarakat lokal sering kali tidak mendapatkan pemberitahuan yang memadai atau jalur ekonomi yang jelas dari penyewaan sumber daya ini. Kerusakan lingkungan yang terjadi di tempat seperti Cekungan Peru atau Dataran Tinggi Blake akibat penambangan setengah abad lalu hingga kini belum pulih, menjadi bukti nyata bahwa ekosistem laut dalam memerlukan waktu yang sangat lama untuk memperbaiki diri.
Desakan untuk melakukan penambangan laut dalam tanpa pertimbangan matang seolah memaksa kita untuk berlari buta menuju masa depan yang tidak pasti, seraya mengabaikan “jejak ombak” sejarah yang ada. Baik dalam pengelolaan batu andesit di pegunungan Jawa maupun mineral di dasar Samudra Pasifik, prinsip kehati-hatian harus dikedepankan. Melangkah mundur menuju masa depan berarti menghormati kebijaksanaan leluhur dan pengalaman hidup komunitas, memastikan bahwa setiap keputusan pengelolaan alam tidak hanya didasarkan pada keuntungan sesaat, tetapi juga keberlanjutan jangka panjang bagi generasi mendatang.