Bupati Aceh Utara Panen Perdana Sawit Ribuan Hektare Program PSR 

  • Bagikan
Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib melakukan panen perdana sawit program PSR. Foto: Dok. Humas Pemkab Aceh Utara
Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib melakukan panen perdana sawit program PSR. Foto: Dok. Humas Pemkab Aceh Utara

ACEH UTARA- Bupati Aceh Utara, H. Muhammad Thaib alias Cek Mad, melakukan panen perdana sawit hasil replanting Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Aceh Utara. Kegiatan seremoni itu dilakukan di Gampong Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Selasa, 28 Juni 2022.

Dari 3.634 hektare luas areal perkebunan sawit rakyat yang telah diremajakan sejak tahun 2019, seluas 600 hektare di antaranya telah mulai memasuki masa panen.

Kegiatan panen perdana itu turut dihadiri sejumlah pejabat Forkopimda, Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Utara, Ir. Lilis Indriansyah, MP, pejabat dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh, para Kepala SKPK Aceh Utara, para Camat, pimpinan Pabrik Kelapa Sawit, serta pimpinan Koperasi dan Kelompok Tani penerima program PSR.

Program PSR merupakan bantuan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dalam bentuk penanaman kembali (replanting) tanaman sawit rakyat. Bantuan dimulai dari penyiapan lahan, pengadaan bibit hingga penanaman dan perawatan.

Bantuan itu disalurkan melalui unit Koperasi dan Kelompok Tani yang tersebar di beberapa kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara. Sejak tahun 2019 telah dilakukan replanting seluas 3.634 hektare di daerah tersebut.

Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib, dalam sambutannya, menyampaikan, pihaknya mengapresiasi kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Utara, serta kepada Koperasi dan Poktan yang telah menggerakkan kegiatan peremajaan tanaman sawit di Aceh Utara.

“Kita juga mengapresiasi serta ucapan terima kasih kepada seluruh petani sawit di daerah ini, yang telah berhasil menanami kembali sawit mereka dan telah mulai memasuki masa panen. Perkebunan sawit merupakan salah satu potensi penting daerah di Aceh Utara,” kata Cek Mad.

Cek Mad menambahkan, selama ini tanaman kelapa sawit telah menjadi salah satu penggerak ekonomi rakyat, menjadi mata pencaharian yang dominan digeluti oleh petani kebun di daerah ini. Untuk itu, pihaknya mengajak para stakeholder terkait untuk terus melakukan pembinaan kepada petani sawit. Untuk peningkatan ekonomi masyarakat perlu kembali ke sektor pertanian.

“Dengan menurunnya bidang industri, pertanian dan perkebunan merupakan usaha yang perlu dikembangkan kembali. Pabrik pupuk PT AAF dan PT KKA telah menjadi besi tua, masyarakat harus menjadi petani sejati,” kata Cek Mad.

Pada kesempatan itu, Cek Mad juga mengajak petani sawit program PSR untuk memanfaatkan lahan dengan menanami tanaman tumpang sari seperti jagung, kedelai, cabe dan sayuran lainnya. Tanaman palawija ini dapat ditanami di sela-sela tanaman sawit. Hal ini akan memberikan nilai ekonomi lebih bagi petani sawit.

“Ketika tanaman sawit masih belum berproduksi, petani bisa memanen jagung atau kacang yang ditanam di lahan tersebut,” ungkapnya.

Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Utara, Lilis Indriansyah, menyebutkan, kegiatan panen perdana peremajaan sawit rakyat adalah tanaman yang sudah ditanam sejak tahun 2019, di mana programnya diusulkan pada tahun 2018 melalui pendanaan BPDPKS.

“Saat ini luas areal tanaman kelapa sawit rakyat di Aceh Utara sekitar 18.187 hektare. Yang harus di-replanting 8.609 hektare, dan yang sudah dilakukan replanting 3.704 hektare. Dari luasan replanting tersebut, yang sudah tertanam seluas 3.634 hektare. Dan, yang sudah bisa dipanen saat ini sekitar 600 hektare,” ujar Lilis.

Kegiatan panen perdana sawit program PSR, lanjut Lilis, dilakukan di Gampong Sidomulyo atas kesepakatan para petani penerima program PSR. Mereka diwakili para pengurus Kelompok Tani dan Koperasi dari Kecamatan Kuta Makmur, Cot Girek, Langkahan, Tanah Luas, Meurah Mulia, Geureudong Pase, dan beberapa kecamatan lain lokasi PSR.

“Para petani sangat mengharapkan agar pemerintah dapat melanjutkan program PSR ini, karena areal kebun sawit rakyat yang perlu peremajaan masih sangat luas. Terdapat sekitar 4.975 hektare lagi membutuhkan peremajaan,” ucap Lilis.

Sebut Lilis, seluruh kelompok tani penerima PSR telah bekerja keras dan telah berhasil, bahkan beberapa kelompok tani di antaranya dinilai telah lebih berhasil sehingga pihaknya memberikan penghargaan. Yaitu, Kelompok Tani Aman Jaya sebagai pengelola kebun terbaik, Kelompok Tani Bijeh Mata sebagai pelapor terbaik. Sedangkan Koperasi Sejati Mandiri sebagai koperasi penyusunan administrasi terbaik. [] (Ril).

 

  • Bagikan